Oleh: adityohidayat | Desember 26, 2007

Borobudur, Wisata yang Tidak Berkelas

Saya menghormati Candi Borobudur sebagai salah satu keajaiban dunia, tapi sayangnya area wisata ini tidak dikelola secara profesional selayaknya sebuah keajaiban kelas dunia. Saya juga sengaja tidak menulis ini dalam bahasa Inggris, karena saya tidak ingin dipandang menjatuhkan Indonesia di mata dunia.

Pengelolaan kawasan wisata Candi Borobudur ini terlalu “merakyat”. Sejak memasuki gerbang parkir, ada begitu banyak “preman” parkir informal yang menjual slot parkir. Walaupun mereka juga mengais rejeki, tapi saya tidak simpatik dengan premanisme ini. Saya terpaksa mengaktifkan tampang beringas, mumpung rambut masih cepak.

Sejak keluar dari mobil, para pedagang asongan langsung mengerubungi. Mereka ini menawarkan sewa payung, bolpen, topi, kalung, cenderamata (ini baru sebagian saja yang teramati). Mereka sih ramah tidak terlalu memaksa, tapi wajah bisa cemberut jika mereka terus menempel kita di setiap langkah menuju loket tiket. Hal yang sama juga menjadi keluhan para turis.

Satu yang paling menyebalkan, adalah saat menuju pintu keluar (sesudah capek naik turun candi). Papan penunjung pintu keluar jg misleading (menghindarkan kata “menipu”). Pengunjung seolah2 “digiring” utk masuk dulu ke maze kios pedagang kaki lima, jalan berkelok2 yang sangat panjang. Ini menjadi sangat menyebalkan karena pengunjung tentu sudah sangat kelelahan, eh malah “dijebak” berputar2 tanpa bisa keluar di tengah2.

Ah sudahlah… Its tipical in Indonesia. Maklum saja deh. Daripada berkeluh kesah, ini saya share sedikit excitement pada saat itu.

borobudur_lala.jpg

pohon.jpg

Hmm, walaupun bukan di Borobudur, sekalian saya share foto ini juga deh, sedikit excitement di Ambarrukmo Plaza ketika berbelanja dengan Bunda Lala.

boks.jpg


Responses

  1. wah mas, begitulah yang terjadi di kawasan wisata, bukan hanya di indonesia tapi juga dinegara2 lain yang daerahnya merupakan kawasan wisata. ada beberapa temen buleku yang bercerita bagaimana mereka merasa terganggu didaerah kawasan wisata terutama di Asia. yah sebagian dari mereka, merasakan hal yang sama seperti yang mas yoyok rasakan🙂

  2. iya mas. bener apa yang anda katakan. borobudur itu peninggalan yang berharga, berkelas dunia – tetapi pengelolaannya kok seperti tidak sekolah? atau terlalu pintar mungkin.

    saya juga sejak membuka pintu mobil dikerubungi pedagang. bukan cuman satu dua orang, tetapi lebih dari lima. rasa”-nya itu bener” ngga mampu.

    pas mau beli tiket, dari sudut kiri, kanan, depan, belakang…. semuanya ngeliatin dengan tampang serem. banyak premannya.

    amannya ketika sudah tiba di candi borobudurnya saja. turun dari candi dikerubungi pedagang lagi yang sedikit memaksa untuk membeli barang dagangan-nya.

    setelah itu mau pulang…. preman” parkir ini juga bikin rusak suasana. bener” ngga enak banget ke borobudur sekarang.

    pengelola-nya ngga tau punya otak apa tidak? – tempat wisata berkelas dunia kok malah begini? kita ber-wisata kan menginginkan kenyamanan – untuk apa ber-wisata kalau was-was… kalau tidak nyaman? yang ada malah ketakutan dipalak.

    oke, untuk borobudur. ngga akan lagi mau kesana. dibayar pun ngga akan mau. apalagi nemenin sodara. mending ke tempat lain saja.

    satu lagi yang harus diperhatikan oleh pengelola. sepertinya para blogger harus banyak” menulis tentang borobudur nih. biar tahu rasa. pengelola harus disentil, agar memberikan pelayanan yang lebih baik kepada turis luar maupun lokal.

  3. Kalau anda kelihatan baik hati jadilah sasaran empuk pedangang asongan preman parkir pengemis, tukang foto, memang disitu markas preman… semua preman dari pedangang asongan, parkir , tour guide sampai pemda-pun preman…

  4. hem.. hem.. saya sih enjoy enjoy aja di borobudur. cuma terganggu sama hawa panasnya aja. cuacanya aga ekstrem

  5. Borobudur adalah mesin uang bagi masyarakatnya maka wajar segala bentuk premanisme dihalalkan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: