Oleh: adityohidayat | Agustus 13, 2007

Hilangkan Kickback dengan Struktur Tim Partisipatif

Membicarakan kickback sebenarnya cukup tabu, coba saja googling dengan keyword “kickback proyek”. Serem juga mengetahui bahwa kata-kata ini hanya muncul di situs pemberantasan korupsi :p

Satu tulisan yang saat ini sedang “hot” adalah yang berjudul “Struktur Tim Partisipatif dalam Proyek Pengembangan Teknologi Informasi”. Tulisan ini bermula sebagai latihan menulis tesis dan hanya diposisikan sebagai sebuah critical review. Saya juga harus membiasakan membaca literatur jurnal terbaru. Pada awalnya membaca jurnal memang berat, tapi ternyata bisa ketagihan juga… hahaha.

Concern utama saya adalah bagaimana meningkatkan kesuksesan implementasi proyek TI, dan salah satu pendekatannya adalah dengan mendorong client untuk melibatkan seluruh elemen stakeholder terkait dalam sebuah struktur tim proyek. Saya mengusulkan sebuah model struktur tim yang generic, dimana secara teoritis dapat berlaku untuk proyek TI di beragam jenis organisasi (pemerintahan, akademik, bisnis). Tulisan selengkapnya ada di repository saya.

Model Generic Struktur Tim Partisipatif

Pesan sponsor yang tersirat dari tulisan ini adalah: kita bisa mengkondisikan sebuah skema “penghargaan tim proyek” yang lebih fair, dimana setiap anggota tim dihargai sesuai partisipasinya. Penghargaan ini bentuknya sesederhana “uang rapat”, diberikan pada saat kegiatan-kegiatan implementasi seperti diantaranya: progress report, data-entry, sosialisasi, pelatihan dan pendampingan. Dalam setiap kesempatan saya selalu promosikan bahwa anggaran implementasi sama pentingnya dengan anggaran pengembangan.Beberapa rekan yang berdiskusi dengan saya juga menyatakan ketertarikannya untuk memberlakukan model generic ini. Ada rekan yang tidak setuju atas konsep “uang rapat”, karena belum tentu setiap rapat/pertemuan hasilnya efektif. Again, yang saya usulkan adalah model partisipatif yang generic, dan “uang rapat” pun merupakan salah satu common practice. Selain itu, anggaran implementasi memang dibuat terbatas, dalam arti setiap rapat harus diusahakan agar efektif, karena tidak akan ada “uang rapat” jika molor-molor terus.

Diskusi yang berkembang berikutnya adalah bagaimana dasar perhitungan “uang rapat” yang fair. Saya usul mengacu pada standard rate Bappenas saja (dalam satuan mandays), karena sudah ditetapkan sebagai standar baku (khususnya untuk jasa konsultan independen) seharusnya acceptable bagi banyak pihak. Jika perhitungan total menjadi terlalu mahal, saya kira sah saja untuk dimodifikasi secara proporsional (diubah menjadi “per kehadiran rapat”). Menurut pak Lukito, standar ini sudah merupakan acuan dalam setiap penyusunan kegiatan di UGM. Ringkasnya tabel ini adalah sebagai berikut:

Standard Rate BAPPENAS

Pemberlakukan struktur tim partisipatif yang dikombinasikan dengan standard rate Bappenas, saya kira akan menjadi suatu pendekatan yang cukup fair bagi kita semua, dan (seharusnya) kickback tidak lagi diperlukan. Disebut fair adalah karena penghargaan hanya diberikan kepada mereka yang bekerja. Pun jika kickback tidak terhindarkan, at least we have proposed a much better alternative.Agaknya ini menjadi terlalu panjang untuk menjadi tulisan perdana, but it is originally meant to be a self-explanatory article. Saya akan tulis lagi jika nanti sudah ada temuan aktual atas penerapan model generic ini. Tentu saya welcome jika rekan lain berkenan sharing pengalaman (baik dengan model “uang rapat” maupun lainnya). Saya juga akan berterima kasih jika ada yang bisa menemukan SK asli standard rate Bappenas, karena googling dimana pun tidak ketemu.

Anyway, saat ini ada satu proyek yang sedang berjalan, dan menerapkan model generic ini. Pengalaman lapangan ini pastinya akan membuahkan pembelajaran, dan jika ada temuan best practice, pastinya akan saya tulis lagi🙂


Responses

  1. blog baru ya

  2. Standard rate yang dikeluarkan Bapenas ini emang dah sama untuk semua daerah pak? Setau saya sich nggak…standar jogja dengan standar jakarta beda banget.

    Klo soal kickback..hmmm gak berani comment ah..yang jelas di dunia marketing kayanya istilahnya jadi bukan kickback deh tapi diskon berupa cash back :))

  3. Wah, kalo rate bapenas diberlakukan di GT, mroyek di GT asik juga yaa..:))

  4. wah…wah…susah nih kalau udah ngomongin kickback, suatu hal yang sudah menjadi rahasia umum di dunia tender negara kita,hehe…
    ide struktur tim parsitipatif sip juga itu pak, mau diterapkan di proyek-proyek GT pak,hehehe..?
    Kadang saya pribadi merasa aneh juga pak kenapa kita harus mengembalikan sesuatu “nilai” ke klien entah dalam bentuk kickback atau dalam bentuk lainnya, bukannya kita membuatkan sesuatu ke mereka dan harusnya kita yang dibayar sesuai dengan apa yang kita kerjakan, bukan membayar mereka…

  5. Artikel PDF tulisan ini telah dimuat dalam Majalah Bisnis Komputer edisi September 2007.

  6. Mas..bisa copy standar rate bappenas nya gak..
    utk jasa konsultan ti

  7. satu lagi..bagus buat bacaan…:-)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: