Oleh: adityohidayat | Maret 23, 2011

Trauma dengan Pelayanan Medis di RS JIH Yogyakarta

Sebulan terakhir ini, sang Avatar (anak ke-2, Gheysar Aulia Al-Fatta) sudah bolak balik masuk rumah sakit. Paling sering masuk di RS JIH, dan belakangan pindah ke RS. Sardjito. Rangkaian perjalanan panjang ini tentu penuh dengan kisah yang semoga tidak terjadi pada rekan lainnya.

Awal bulan Februari, mondok di sekitar 3 hari di RS. JIH Jogja dengan diagnosa infeksi saluran kemih dan radang tenggorokan. Akhir bulan Februari, mondok lagi 6 hari di RS. JIH, kali ini karena memang sulit teridentifikasi diagnosanya karena gejalanya tidak spesifik. Gejalanya trombosit dan leukosit turun dibawah normal, demam tinggi mencapai 39. Untuk ini diagnosanya adalah Dengue High Fever. Gejala lainnya adalah seperti alergi (tapi belum separah kondisi Steven Johnson), diduga karena alergi Sanmol (paracetamol), so untuk ini diagnosanya adalah Drug Eruption. Penanganan sudah dilakukan untuk keduanya, sebagian besar adalah untuk anti-alergi yang dimasukkan melalui infus. Sungguh tak tega hati ini karena sang Avatar kesakitan setiap kali injeksi, bahkan sudah trauma selalu teriak-teriak setiap kali melihat perawat berseragam.

Saya bersyukur pada hari ke-6 sang Avatar sudah boleh pulang. Persis sebelum check-out, pada saat dokter memeriksa, ternyata bekas infus yang sudah dilepas sebelumnya itu terjadi infeksi, nampak seperti ada mata nanah didalamnya. Dokter juga meresepkan salep utk dioleskan disekeliling area infeksi.Inilah foto sang Nanah.

Sang Nanah Belum Meletus

Ternyata, selang sehari dan sesudahnya, sang Avatar kembali demam. Kali ini karakteristik demamnya tidak sama dg sebelumnya, demam tidak mencapai 39. Demam terus terjadi hingga sang nanah meletus. Karena kuatir terjadi infeksi, kami bawa ke dokter dan segera dibantu dikeluarkan nanahnya. Inilah rangkaian foto sang nanah sesudah meletus dan sesudah dikeluarkan oleh dokter.

Sang Nanah Meletus

Sang Nanah Sudah Kering

Anehnya, nanah sudah dikeluarkan, sudah diresepkan antibiotik juga, tapi kok demam tidak turun. Dokter menyarankan cek darah rutin, dan hasilnya mengejutkan. Hasilnya berbalik dibanding waktu Dengue High Fever kemarin, trombosit dan leukosit malah sangat tinggi diatas normal. Karena tidak ada indikasi infeksi yang spesifik, plus ada resiko infeksi dan alergi obat, maka diminta mondok lagi. Saya sudah memohon-mohon untuk tidak mondok lagi, tapi apa boleh buat, lemess kalau ingat sang Avatar masih trauma. Kami tidak mau lagi memilih RS JIH, ganti ke RS. Sarjito, sekalian agar dekat dengan dokternya, juga dengan harapan penanganan terhadap infus lebih baik.

Sang Avatar mondok di Sarjito 6 hari. Di Sarjito ini banyak dokter yang turut memeriksa, sekalin dokternya Avatar (ahli ginjal anak), ada ahli alergi anak, ahli infeksi anak. Beberapa hari pertama belum ketahuan apa bakteri penyebab infeksinya. Bahkan dokter juga melakukan kultur darah untuk mengidentifikasi bakterinya. Pada suatu pagi, tiba-tiba saya memperhatikan sesuatu yang tidak wajar. Pada saat sang Avatar ganti baju, terlihat ada bengkak besar di keteknya. Ini fotonya.

Bengkak di Kelenjar Gejah Bening

Sesudah ditunjukkan ke dokter, dilakukan pemeriksaan, akhirnya positif diagnosanya adalah infeksi kelenjar getah bening. Jadi kenapa terjadi bengkak, karena didalamnya itu berisi nanah (yaiks!) Dalam kondisi yang parah, nanah itu akan muncul ke permukaan, ilustrasinya mirip seperti buah mengkudu. Dokter ahli bedah anak juga turut datang memeriksa sang Avatar. Penanganan terhadap infeksi kelenjar getah bening dilakukan dengan memberikan antibiotik yang cocok (sesuai dengan sensitivitas bakteri yang sudah teridentifikasi), demamnya sudah turun, dan hasil cek darah rutin juga sudah berangsur normal. Pemberian antibiotik dilanjutkan secara oral (rawat jalan), dengan harapan bengkak bisa mengecil. Jika tidak mengecil, maka harus dilakukan insisi (bedah ringan) untuk mengeluarkan nanahnya (douhh!). Alhamdulilah antibiotiknya cocok, dan bengkak berangsur mengecil, tidak perlu dibedah.

So apa moral dari kisah ini? Saya pribadi sudah sangat bersyukur sang Avatar bisa pulih seperti sediakala. Berdasarkan diskusi saya dengan beberapa kerabat dokter, kelenjar getah bening adalah mekanisme pertahanan pertama jika terjadi infeksi. Persis sekali, kelenjar getah bening yang bengkak adalah berada pada sisi yang sama dengan terjadinya infeksi nanah pada bekas infus. Dokternya sang Avatar juga menyampaikan bahwa perawat tidak lapor ke dokter sesudah melepas infus (ini adalah prosedur standar, supaya dokter bisa periksa pada saat infus dilepas). Berdasarkan fakta-fakta ini, wajar jika opini yang terbangun dalam pikiran saya adalah: RS JIH yang menyebabkan terjadinya infeksi susulan, sehingga sang Avatar harus mondok lagi, dan keluar biaya lagi. Saya sendiri sudah bersyukur dan sangat appreciate pada saat check-out dari RS. JIH sudah diberikan discount atas biaya kamar. Tentu saja discount merupakan sebuah bentuk penghargaan yang baik karena pelanggan sudah menggunakan layanan rawat inap di RS. JIH  (konteks lampau). Sementara konsekuensi atas terjadinya infeksi susulan sebagai akibat pelayanan medis RS. JIH merupakan konteks masa depan yang ditanggung oleh pasien (saya sendiri). Apakah ini berarti RS. JIH telah melakukan malpraktek (karena ada salah prosedur yang mengakibatkan terjadinya cedera langsung pada pasien)? Kisah ini dapat dikroscek dengan definisi-definisi malpraktek yang ada.

Sebenarnya ada kisah-kisah lain berkaitan dengan pelayanan medis RS. JIH, ini saya dapatkan dan kompilasi dari pengalaman kolega dan mitra bisnis saya. Tentu saja cukuplah yang saya ungkap adalah kisah dari saya sendiri. Sebelum tulisan ini dipublikasi, sudah dikirimkan kepada pihak RS. JIH pada tanggal 15 Maret 2010 melalui e-mail info@rs-jih.com, namun tidak ada tanggapan formal hingga tulisan ini dipublikasikan pada 23 Maret 2011. Saya sudah memberi waktu seminggu lebih agar pihak RS JIH dapat melakukan cek email, verifikasi dsb. Harapan saya sebenarnya tanggapan formal itu dapat saya sertakan juga disini agar tulisan ini berimbang dari perspektif kedua belah pihak. Berdasarkan kisah-kisah ini, saya juga memutuskan untuk berpindah ke rumah sakit lain.


Tanggapan

  1. wah kok sampe kayak bisul gitu ya bu…. perlu ditindaklanjuti itu bu RS JIH nya… biar nanti ada yang menegur

  2. Sedikit menyimak dari apa yang anda paparkan, kecenderungan dari pembahasan adalah kesalahan prosedur perawatan lokasi pemasangan infus yang menyebabkan plebitis. dan kesan bahwa plebitis menyebabkan infeksi getah bening. dan dokter mengatakan perawat tidak melaporkan paska melepas infus, yang seakan-akan perawat yang di salahkan. Menurut saya untuk RS besar yang berstandar International dapat melakukan perawatan khususna pada anak yang menerapkan Atraumatik Care, yaitu mengusahakan perawatan yang mereduksi trauma pada anak terkait pengobatannya, perawatan, dan pemenuhan kebutuhan anak menyeluruh. saya kurang sepakat jika anda menyimpulkan bahwa itu kesalahan perawat, sesuai tugas profesi dokter juga harus memeriksa secara head to too dengan adanya laporan ataupun tidak. Banyak hal mungkin yang bisa dibahas dari wacana ini, namun hemat kata Atraumatic care perlu diterapkan di RS indonesia, dan tak perlu mencari salah siapa, smua bertangung jawab terutama orang tua juga, tidak dipungkiri bahwa anak pasti banyak bergerak apalagi ketika terpasang infus, otomatis banyak terjadi gesekan pada lokasi penusukan yang perlahan menyebakan infeksi nah pada saat seperti itu orang tua harus lebih consern, bukan setelah hal itu terjadi baru consern. bukan berarti saya menyalahkan anda namun introspeksi dari semua pihak sangat dibutuhkan dalam permasalahan ini. terimakasih, dan smoga avatar sehat selalu. amin.

  3. @abim: Menambahkan keterangan, sang Avatar sebelumnya juga sudah “langganan” infus di JIH, anak juga bergerak, bahkan sempat dipasang ulang infusnya karena jarum bengkok gara2 banyak gerak. Namun sebelum2nya tidak ada problem dg infus maupun pasca lepas infus.

    Hal lain, belum terlalu lama ini ada ketentuan dr Depkes/Dinkes bhw tidak boleh lagi menggunakan kata “international”. akhirnya skrg namanya cukup “JIH” saja.

    “atraumatic care”, istilah baru utk saya, sepakat sekali jika ini mjd treatment standar utk bangsal anak. Terima kasih untuk tanggapannya ya.

  4. maaf bu mau konfirmasi tulisan ibu,,,disitu tertulis dokter tidak diberitahu oleh perawat klo pd saat itu tangannya bekas tusukan infeksi ada mata nanah,tp ditulisan ibu sebelum pulang adek avatar diberikan salp untuk bekas tusukan infeksi ada mata nanah,,,,,,,,,,maaf bu katanya adek mondok 6hari dijih,apakah di jih tidak pernah ganti posisi tusukan infus……

  5. @gunawan: lepas infus adalah H-2 atau H-3 sebelum pulang. dokter beru memeriksa bekas infus adalah pada hari H pulang.

    ganti posisi infus, tentu pernah, dan saat ganti infus sblm2nya tidak kejadian spt ini.

  6. maaf bpk ato ibu saya banyk bertanya,krn buat bahan masukan buat saya krn anak dan keluarga saya sering berobat di jih,tp allhamdulilah selama ini tidak ada masalah,,tp maaf bu wkt ank saya berobat infus bengkak,perawat selalu bilang mau ditelp khan dulu dokternya, perlu pasang lagi ato tidak dan biasanya yg motivasi pasang infus lg dokternya, dng diberi alsan kenapa dipasang infus lg,siapakah pd saat itu dokter ato perawatnya yg motivasi pasang infus lagi,klo yg motivasi sama spt anak saya yaitu dokter,berarti seharusnya dokter mengecek bekas tusukan pda saat infus dilepas bukan pada saat mau pulang,,tp maaf bpk ato ibu pd saat diberi salp buat tangannya berkurang ato tidak bengkaknya,,,ato terasa kzk alergi,,krn dari saya baca adek alergi obat.. saza doakan semoga adek cepat sembuh ya dan tidak terulang lg kejadian seperti ini

  7. Ibu Gunawan yg baik, terimakasih atas doanya. Alhamdulilah sang Avatar saat ini senantiasa sehat.

    Benar sekali, biasanya di JIH baik2 saja, sayangnya kebetulan yg kami alami adl kejadian tdk biasanya.

    Saat diberi salep, bengkak tidak berkurang. Bs jd disebabkan krn infeksinya sdh terlalu berat. Bengkak br berkurang sesudah nanah dikeluarkan.

    Jika selama ini baik2 saja di JIH, tentu silakan diteruskan, semoga kisah ini menambah kehatian2an kita setiap kali menggunakan layanan kesehatan dimanapun.

    Semoga bermanfaat.

    Powered by Telkomsel BlackBerry®

  8. sebelumnya saya do’akan smoga adik avatar sudah jauh lebih baik dari sebelumnya dan selalu terjaga oleh-Nya amien.
    saya menyimak tilisan yang bapak ibu tuliskan diblog ini saya mencoba untuk menelaah lebih jauh agar jangan sampai timbul trauma-trauma lain. saya menyimak tulisan dari atas sampai bawah dan memang agak bingung jujur saja sepertinya ada yang miss atau memang hanya itu saja yang terjadi. maksudnya cover both sidenya tidak nampak nyata. informasi yang ada hanya bersumber dari dokter yang meraat adik avatar saja tidak ada keterangan dari orang yang melakukan pemantauan selama 24jam di rumah sakit yaitu perawat.
    seperti yang kita ketahui besama waktu antara dokter dan perwat dalam memantau pasien jelas sangat berbeda sehingga jika ingin info yang cukup”mendalam” sebaiknya tanyakan kepada perwat di bangsal perawatan.hal ini dilakukan agar jangan sampai ada “dusta”diantara kita. coba tanyakan bukti-bukti atau progress reportnya sehingga kita tahu apa yang sebenarnya terjadi. kenapa? karena dokterpun juga manusia punya sifat lupa.
    selanjutnya mengenai luka yang akhirnya diberi salep oleh dokter adik avatar. ada yang sedikit mengganjal sebenarnya, itu salep jenis apa ya? dan apakah itu sudah pasti aman untuk adik avatar karena adik avatar punya riwayat alergi obat. nah kita sebagai orang tua haruslah lebih hati-hati dalam pemberian obat, apalagi obat sejenis salep itu mempunyai resiko alergi yang tinggi juga.
    untuk tulisan di Sarjito banyak dokter yang merawat. itu pasti bapak ibu karena sarjito adalah rumah sakit pendidikan dimana calon dokter (istilahnya koas) calon dokter spsialis (resident) belajar disitu. seperti itu.
    sekali lagi semoga adik avatar tetap sehat dan kita semua lebih waspada hati-hati dan peduli dengan setiap detail kesehatan keluarga kita. jangan lupa jika ingin membuat kesimpulan cover both sidenya diperhatikan agar tidak timbul fitnah ataupun ada yang terlukai. amien.

  9. @Noe Satria: benar sekali, kehati-hatian tetap perlu. Sejak awal niat penulisan artikel ini adl mengcover both sides, tp tdk terealisir krn sptnya pihak JIH tdk memanfaatkan kesempatan utk turut sumbang suara.

    Powered by Telkomsel BlackBerry®

  10. begini, cover both side itu adalah salah satu “rukun wajib” kita dalam menulis dengan tujuan bahwa semua dapat disampaikan berimbang, adil, tidak berat sebelah. nah dari point itu adalah kewajiban kita sebagai penulis untuk melakukannya dengan cara klarifikasi kepada kedua belah pihak. dalam kasus ini ada beberapa pihak yang bisa dijadikan sumber informasi sebelum membuat sebuah kesimpulan atau sikap.
    1. Dokter, dia sebagai insan yang bertanggungjawab dalam membuat setiap keputusan. kalau menyimak dari kalimat “agar dekat dengan dokternya ” dokter adik avatar di JIH dan di Sarjito itu sepertinya sama.
    2. JIH sebagai rumah sakit yang bapak/ibu duga sebagai awal terjadinya masalah. lakukan cross check dengan informasi awal yang telah diterima sebelumnya. mulai dari tentang tidak adanya pelaporan oleh perawat sampai dengan terjadinya infeksi pada tangan adik avatar.
    3. perawat JIH. mungkin ini perlu sebagai orang yang langsung berinteraksi selama 24 jam jika jawaban dari pihak manajemen rumah sakit dianggap kurang dapat memberikan rasa puas.
    saya sarankan untuk mendatangi langsung pada rumash sakit. hal ini untuk menghindari email yang kita kirimkan ternyata tidak bisa diterima oleh pihak rumah sakit. kalau melihat waktu pengiriman email bapak/ibu yaitu bulan maret, itu sangat sering terjadinya kegagalan dalam pengiriman email. karena saya mengalami bahwa email-email dari sahabat, teman ataupun kolega mayoritas tidak dapat terkirim di email saya.
    ini hanya sekedar masukan saja untuk bapak/ibu pada khususnya dan kita semua pada umumnya agar jika terjadi sesuatu dengan salah satu anggota keluarga, kita dapat mealkukan langkah-langkah yang strategis untuk mendapatkan penyelesaiannya. terimakasih

  11. saya dulu pernah sakit demam panas tinggi, awal mula periksa di sebuah klinik di jalan kaliurang jogjakarta, diagnosa awal ada dua kemungkinan kalo tidak typhus ya demam berdarah. Dikasih obat dan rawat jalan. Sampai hari ketiga tidak ada perubahan. Terus saya inisiatif opname di RS JIH, diagnosa typhus. Ditangani dokter dan perawat2 yg kerjanya bagus, cepat dan profesional. Hari kedua sudah membaik dan hari ketiga sudah boleh pulang. Alhamdulillah, tidak ada kejadian apa-apa. Saya masuk di kelas III dengan kondisi kamar yang bersih, setiap hari sprei diganti, air panas tnp terbatas. Pokoknya everything is fine….

  12. Menyimak dr pristiwa ini mmg ckup rumit jg.,krn dstiap insan tdk ada yg mmpunyai ksempurnaan slain yg mha kuasa.. Z sndri prwat d RS.Korem Kendari,,Yah.. Smg smua pnglman n kjdian ini dpt mnjdi sesuat yg plg brhrga bgi km sbg pmbri plynan,,agr k dpan dpt lbh mnekankan kpuasan plyanan.. Prwat n dkter adlh 1 team yg sm2 mmpuyai tjuan yaitu mgtasi mslah klien.olehx it sgt dbtuhkn krja sma/kolaborasi yg baik antra keduax.. N buat adek avatar smg slalu shat yah..

  13. Maaf, saya punya luka seperti pada gambar, dan ada nanah nya juga, saya sempat pergi ke dokter sekali, dan dikasih obat oles garamycin, dan 1 antibiotik minum tablet. Tapi sampai sekarang luka nya memang kering tapi bernanah, waktu itu saya pikir korengan, tapi begitu di kopek, keluar air, dan isinya seperti berlubang ke dalam, dalamnya ada kayak selaput putih belang belang merah, akhirnya saya korek dengan jarum yang sudah di bakar dan dilap alkohol, lalu saya lap luka saya dengan alkohol, beri betadine, dan pakai garamycin, tapi, setelah 3 hari terulang lagi hal yang sama, kembali korengan dan bernanah, sekarang sudah saya kupas lagi, isinya sama tapi berlubang nya jadi lebih dalam, barusan saya ke dokter, tapi cuma dikasih saleb, kalau yang kayak di gambar, itu gimana kok bisa sembuh ?, pertama saat ke dokter saya sudah cabut nanahnya, tapi sekarang, saya ganti dokter dan dia tidak cabut nanahnya. Ada yang bisa bantu ?

  14. Luka saya sudah sembuh dan mulai mengering :D , ternyata saya dapat 1 pelajaran, kalau pakai obat jgn kebanyakan, saya dulu sekali pakai oles semua sampai lubang lukanya penuh, ternyata itu sebabnya, lalu mungkin juga, dulu dokter bilang jangan kena air, tapi saya lap alkohol dan pakai betadine, akhirnya saya gak kasih alkohol dan betadine lagi, dan saya oles garamycin tipis tipis, yang penting semua keoles dan kena, kalo ada yang ketebelan, ratain lagi, sekarang tinggal dikit korengnya :D

  15. terima kasih kawan2 atas sumbang pemikiran dan pengalamannya, alhamdulilah sampai sekarang sang Avatar sehat wal afiat, sungguh merupakan kebahagiaan tersendiri menyaksikan keceriannya..

    @vincent: treatment nanah pada saat itu memang sangat hati2… proses mengeluarkan nanah juga sangat pelan2, tdk hanya dikeluarkan secara manual (dipencet2) tapi juga diselang seling dengan treatment lain (istri yg menyaksikan proses ini).

    ya semoga dengan adanya sharing pengalaman ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

  16. Ya trims banyak :)

    mau numpang kasih tau, kalau ada yang kena rematik, pengapuran, asam urat, saraf kejepit, kini bisa disembuhkan dengan obat alternatif alami fengshibao, tanpa rasa sakit, tanpa efek samping, tanpa suntikan, tanpa operasi, tanpa makan obat, tanpa akupuntur, kalau mau keterangan lebih lanjut cek di http://www.penyembuhan.co.id, hanya untuk berbagi :)

    oh iya kalau mau konsultasi, gratis, bisa by phone, atau datang ke sana langsung. ( ONGKOS KIRIM OBAT GRATIS kalau lewat pesan antar SE-INDONESIA )

  17. http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11900347
    ini kasus korban dari JIH, seorang gamer yang mengalami kecelakaan..
    Tapi penanganannya salah, dan mengakibatkan meninggal dunia

  18. btw perawat JIH gaji dan komisinya paling kecil dari seluruh RS di Jogja.
    Banyak perawat JIH hanya menunggu kesempatan mendapatkan pekerjaan di luar JIH.

  19. SHARING AJA…
    JANGANLAH CEPAT CEPAT AMBIL KEPUTUSAN UNTUK PERIKSA DIRUMAH SAKIT ITU…
    KARENA MELIHAT KONDISI DIDALAMNYA SANGAT MENYEDIHKAN..
    BAYANGKAN 1 BANGSAL DIASUH OLEH DUA PERAWAT… DENGAN TENAGA MINIM MAKA KESEMPATAN KESALAHAN BESAR
    KASIHAN SAYA MELIHAT PERAWAT… DAN SAYA BERFIKIR MENDINGAN DI RAWAT DI RUMAH SAKIT SARDJITO.. KARENA DISARDJITO RUMAH SAKIT PUSAT DAN KALAU GAK DITUNGGU DOKTER SPESIALIS PASTI ADA RESIDEN YANG JAGA…
    SAYA PERNAH DI JIH PERIKSA RONSEN… WADUUUUUUUH PETUGASNYA SANGAT KASIHAN…. WAKTU ITU BANYAK PASIEN.. TERUS YANG JAGA SENDIRI…. MENURUT SAYA, KITA BEROBAT JANGAN TERGIUR KARENA TERTIPU OLEH TAMPANG FISFIK…
    DAN JANGAN LAH BEROBAT KARENA GENGSI.. KARENA BANYAK ORANG YANG DIRASA KELIHATAN WAAAAAH KALO PERIKSANYA DIRUMAH SAKIT INTERNATIONAL..INTINYA PADAHAL BUKAN ITU…. MUDAHA2HAN ADA MANFAAT….


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.