Saya kembali beraksi sebagai moderator dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh MTI UGM bertema “Best Practices untuk Keberhasilan Implementasi e-Government di Indonesia”. Baru kali ini saya bertugas di seminar yang diselenggarakan begitu rapinya, karena peserta seminar mbludak mencapai 320 orang, dan tentu saja karena berhasil mendatangkan Menkominfo. Selebritis nasional yang turut serta lainnya adalah Bupati Gorontalo dan Sragen (keduanya diwakilkan, tapi tetap seru).
Baru kali ini saya mengenal dan memahami sosok seorang Menkominfo, Muhammad Nuh. Walaupun saya hanya mengenalnya melalui keynote speech dan beberapa handshake, apa yang beliau sampaikan merupakan benar-benar sebuah pencerahan.
Saya juga jadi memahami perspektif beliau atas isu aktual, terutama ttg pemblokiran situs porno terkait UU ITE. Beliau menjelaskan dengan alur argumen yang tidak hanya logis ilmiah tapi juga sekaligus penuh dengan kearifan (wisdom). Sungguh, mendengar langsung dari pak Nuh sendiri memberikan pemahaman yang jauh lebih utuh ketimbang membaca sendiri melalui berita. Belakangan sesudah diskusi dg pak Djun dan pak Ong, saya baru tahu ternyata beliau ini adalah seorang kyai NU. Katanya, dulu ketika di ITS sering memberikan pengajian, bahkan dalam berbagai forum akademik pun kental dengan muatan dakwah.
Apa yg dilakukan pak Nuh sudah disadari betul akan ditentang banyak orang. Inilah saatnya, berdakwah menyampaikan dan menegakkan kebenaran dengan menggunakan kuasa sebagai Menkominfo. Banyak yang menentang dengan argumen azas kebebasan atau hak asasi, respon beliau simpel saja: “Okelah, Anda bebas membuat atau mengakses situs porno, maka saya juga bebas memblokir. Fair kan.” Saya tidak berusaha menyampaikan semua argumen dari beliau, krn sesuai kata beliau: pornografi adl sebuah debat tanpa henti.
Ada analogi yg menarik ttg pornografi. Sampah selalu ditaruh di luar rumah, mempersilakan siapapun untuk mengambilnya. Sebaliknya, sesuatu yang paling berharga (mis: emas) pastilah selalu disimpan di dalam rumah, di tempat tertutup rapat, jangan sampai diambil orang. Pesannya, generasi kita ini jangan berbangga atas sesuatu yang keliru.
Ini saya tulis karena saya kehilangan selembar catatan lusuh yg memuat semua insight dr Menkominfo ini. Saya menulis ini utk sharing, sekaligus menulis-ulang supaya saya sendiri tidak lupa. Sedikit oleh2nya:


kalo gw menyadari pak nuh itu orang nu pas ndenger khutbah jumatnya di maskam ramadhan kemarin.
gw juga kaget, tumben mentri bisa khutbah jumat darik (terstruktur rapi) dan dalil2nya juga pas, qurannya lancar padahal gag baca teks, dan medok banget nu-ne
Oleh: paydjo on April 7, 2008
at 2:10 am
udah sepantasnya dan seharusnya seseorang menggunakan “kekuatan”-nya untuk suatu kebaikan, dimana pemblokiran situs porno harus dilakukan dan didukung oleh semua praktisi dan netter Muslim.
Selamat tuk pak Nuh (nitip disampaikan beliau ya kalo sempat/ketemu)
Oleh: Salim on Mei 18, 2008
at 7:05 am